Sunday, May 10, 2015

kurang lebih


Tolong jangan berekspektasi lebih dengan berpikir saya akan membuat review album, pun ketika besok adalah pengumpulan ujian akhir yang merupakan berlembar-lembar tulisan tangan. Tapi album ini, yang dirilis di hari ulang tahun saya (yang menyenangkan, bytheway, dan kemungkinan akan saya tulis di kemudian-kemudian-kemudian-kemudian hari), akhirnya saya dengarkan setelah beberapa saat denial bete tentang album ini. Denial bete itu karena informasi pre-order album versi Indonesia saya baca di akhir bulan Maret, masa tersulit finansial mahasiswa, sehingga proses pemesanan saya tunda............hingga akhirnya album dirilis. Typical me.

Sebetulnya tujuan tulisan ini adalah ... pelepasan emosi saya yang jantungnya lagi berdebar-debar perkara mendengarkan album plus minus by Mew ini. Entah headphone ayah saya yang bagus atau bagaimana, ya pokoknya saya harus melepaskan rasa excitement saya. Tapi rasanya terakhir saya menggunakan headphone yang sama suaranya tidak sebaik ini, ah ya, it must be the song then :( 

Ya begitu.

Thursday, April 30, 2015

Just Some Convenience


Seeing Erlend posted this photo.
Has it been too long since I last saw them together?


That scruffy face of Eirik.
Pink pants and indifferent.
That too scandinavian face of Erlend.
With too colorful outfit.

Why do I love this photo so much?
Is it because they're too good looking, looking candid-ish?
Is it because I miss them so much?

I think I'm
just gonna stare at this photo all day.

Saturday, April 25, 2015

Akan Hal-Hal Yang Ingkah

Kamu ingin dia tahu kalian tidak semudah sebuah istilah yang berpindah. Kamu bersyukur Tuhan masih acuh pada yang sepele dan rendah. Kamu harap masa depan tidak terlalu menjadi hal yang engah. Dan melangkah dengan hati, hati yang jangan terpepah.

Wednesday, April 15, 2015

Hidup dari dadu dan kanvas

Saya sedang merasa bersyukur, jika mendengar kisah tentang temannya teman, tidak jarang saya mendengar sesuatu yang membuat saya merasa "kok ada orang yang begitu", atau sesimpel mendengar sebuah lingkungan yang perilakunya saya tahu exist, tapi hanya pernah mendengarnya sebagai pihak ketiga.

Intinya saya merasa bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik, dengan definisi baik yang saya bawa dari keluarga saya. Mungkin saja ini sebuah kebetulan, tapi yang ternyata banyak kehidupan 'asing' yang begitu dekat dengan saya, dan kehidupan saya masih 'polos', dengan definisi polos yang ada di kepala mayoritas orang, saya menganggap ini tidak serta merta kebetulan, peluang dadu lempar, apakah saya akan mendapat teman dengan pergaulan baik atau tidak, saya merasa dadu-dadu itu sudah diletakkan untuk saya (karena saya sudah melihat bagaimana dadu-dadu itu dilemparkan ke mayoritas orang). Makasih Ma, sepertinya do'a Mama di tiap tengah malam ngebawa aku sampai detik ini berkehidupan 'baik', ngebawa aku sampai aku punya fondasi untuk kenapa aku bisa tetap di jalan itu.

Saat ini, definisi polos yang ada di kepala kebanyakan orang itu sudah menjadi definisi terbalik di mata saya: bukankah mereka yang berusaha menidakpoloskan hidupnya adalah orang-orang polos yang sedang mencari hidup? Ya kira-kira begitu. Tentunya setiap orang memiliki pandangan di kepalanya mengenai sosok dan pribadi yang diinginkan-untuk-menjadi, yang dianggap cool, bukan sifat yang jika orang lain membicarakan sifat itu secara buruk, kemudian kita malu karena melakukannya. Saya tidak ingin melakukan hal-hal yang lari dari integritas, yang saya tidak tahu apa alasan saya melakukan hal itu. Saya ingin melakukan sesuatu berlandaskan why, bukan how apalagi what. Belakangan saya mendapat sosok konkrit sempurna untuk jadi sosok cool yang sebaiknya saya lekatkan di kepala saya, sebut saja namanya Haikal Azizi, hidup di lingkungan sebuah definisi tapi dia punya definisinya sendiri.



Oh sungguh.

(Closing tulisan ini agak anti klimaks karena ditutup dengan gestur fangirl, harap dimaafkan)

Thursday, March 12, 2015

Dimengerti yang Tidak Pernah Diminta dan Jangan Pernah Dicoba

Replikaku sudah lama mati di akar beringin 
Karena mencoba "mengerti" yang sudah bacin 
Omonganmu sama, ternyata asin 
Mayatku lagi-lagi raib ditiup angin

Thursday, February 5, 2015

Sometimes Life isn't Easy

Saya ingat tepat setelah menonton konsernya tahun 2013 (pertama kali saya nonton MEW) saya nge-tweet minta mereka datang untuk yang kelima kalinya agar bisa saya tonton lagi, karena saya akan sangat tidak berkeberatan melihat live sebaik itu lebih dari sekali.

Tapi ga begini, harusnya bukan pas excitement akan kedatangan VAMPS ke Indonesia--setelah melewatkan kedatangan pertamanya (pada saat saya sedang tidak peduli)--sedang tinggi-tingginya.

Tentunya kalau saya orang kaya raya hambur, ini bukan suatu kepelikan hidup. But it is, so.