Thursday, July 30, 2015

malam

prolog
Pada ruang yang terkonstruksi dalam isolasi: adalah mata-mata yang mengerjap
dari tanah yang kupijak, adalah mulut-mulut yang melahap pada lantai terkuak.
Dunia serumit nafas yang aku coba tangkap
pada dinding, yang lalu bergejolak dan tak lagi berpihak.

i
Katamu jangan ragu; dalam rebah. Kau mengukir dan merangkai semudah, setelah berkata "telah kupetik lagi satu nyawa", yang kemudian kutanam, sampai berkunjung
kagum. Tidak sekali. Pada rumah yang dengan cepat setuju.
Di luar hanya kata yang tersiar, yang sudah sering kau dengar. Setidaknya ada sejarah. Adakah sejarah? Bagiku itu sejarah kita.
Sejarahku, hanya, bagi bentala.

ii
Kau seindah imaji yang buta. Ketika mayat yang kau tahu akan ada; belum saatnya kau lahir dalam kata. Imaji semanis gula-gula yang habis dalam semalam, agar kau ada untuk kumuntahkan: terapal pada paragraf terjelma gugusan. Walau sempat, imaji ingin bertukar kata (dalam malam prasaja).
Kau rawat baik mayat, yang kubunuh, yang hidup, dan akan kembali
pada sebuah pangkuan yang mengupas habis kenangan. Pada saat itu, kau dan aku,
seribu kepal menuju ada.

Wednesday, July 22, 2015

Sunday, July 5, 2015

all over again


stop telling my emotion what to do


but then again
those people have done nothing wrong
what is wrong is your fking expectation

Thursday, July 2, 2015

kisi

Malam ini, seperti malam terhimpit lainnya, pada rak, lelap tidak bertempat, lelap menyelap.
Rak selalu terisi, pun ketika kosong, pun ketika semesta seperti selalu mengubur. Aku tidak berkesempatan untukmu, semesta. Kosong merayu, kepada rak menyebu. Aku sampah, semesta. Dan rak bersumpah, aku lelah. Namun pedulikah?
Namun rak-rak buta akan kesaksamaan isi buku. Oh tolong, kepada siapapun yang Maha: bacakan, ejakan. Dan apakah setelahnya dunia akan tetap enggan? Malam ini rak penuh, terjejal kosong. Oh kosong, hanya melompong.
Terhitung menit buku harus terjual. Buku belum berjudul, sayang. Buku sudah terisi, oleh kosong, oleh yang hanya melompong. Apakah salah, ia, semesta? Mengisi yang kosong agar penuh? Apakah buku harus dijual, semesta? Di mana acuh dijual bebas? Di mana acuh bisa kulahap? Di mana acuh bisa kububuh? Acuh, semesta, begitu pelik. Isi buku, semesta, begitu mistik.
Pulangkan aku, ke tempat di mana huruf pada buku tereja di sepanjang jalan, menuju gunung, ke tiang-tiang yang terang. Mengapa kata, semesta, tidak pernah terpatri. selalu terpapas, terlepas. Aku buntung, semesta, rak tidak berkaki. Bantu aku, semesta, membaca isi buku, hingga berbalut-balut, hingga berdaki-daki.

Sunday, June 28, 2015

produktivitas, dunia, produktivitas dunia

Apa yang dibutuhkan seorang saya untuk dapat menulis? Cukup merenung ketika seorang teman mengirimkan cerpen yang saya tulis pada awal SMA yang ditemukan di komputernya. Saya kagum membacanya walau jauh dari sempurna. Saya kagum pada saya yang dulu yang bisa merangkai kata hingga cerita, karena saya yang sekarang belum tentu dapat melakukannya. Oh tapi sudah sejauh apa kamu mencoba?

Juga ketika membuka label kata pada blog ini, dan menyadari produktivitas kata yang menurun. Apa yang dibutuhkan seorang saya untuk dapat merangkai kata? Asumsi faktor pendorong yang saya terka kemudian patah ketika membuka folder pribadi SMA saya: tanpa si asumsi-faktor-pendorong, folder kata itu berisi banyak file kata. Dan oh, banyak di antaranya bahkan saya lupa pernah saya buat. Dan oh-nya lagi, ada yang rasanya sangat berkaitan dengan kehidupan saya saat ini (you know so well, old me), yang bisa saya daur ulang, dan kemudian saya daur ulang. Awalnya saya berniat mengganti judulnya, namun tidak bisa memikirkan judul yang lebih baik dari treadmill tanpa ditranslasi, walau mungkin judul itu adalah judul spontan dangkal saya saat itu.


Treadmill
Separuh jalan baru tertempuh ketika aspal mencengkram tali sepatu. Tanpa sempat terkejar, selalu lebih dulu dunia berlalu. Tanah di pijakan bergerak mundur dan kakimu terpaksa berlari, menenteng ari-ari, sambil dunia di depanmu menari. Kakimu adalah mesin yang mendisfungsikan tubuhmu. Kaki dan tanah adalah waktu. Ketika darahmu habis diperah, organmu mati terengah, kamu hampir mati terbawa lelah.

Terpaksa kamu adalah seorang penikmat etalase. Orang-orang sudah lama menegak oase. Dalam buncah, otakmu pecah, kopermu tumpah, sepatumu belah. Tapi kamu masih berlari, tinggal membawa sisa nadi, berharap gelasmu masih sempat terisi.

Sunday, June 14, 2015

Gelembung Lucu di Dada

Bersyukurlah saya, secara langsung atau tidak, sadar atau tidak, saya tidak akan selamat dan menjadi lebih kuat jika bukan karena mereka. Saya bisa menerima diri sendiri, dengan bicara tentang penolakan saya pada diri, dan mengakui kenaifan-kenaifan saya yang selama ini secara naif saya abaikan, hingga saya lebih mengerti diri sendiri, dan hal-hal lain manusiawi.

Dari dulu sering doa saya, agar saya tidak memiliki watak sombong, karena saya merasa sering melakukannya--ingin terlihat superior--dan menyesal, merasa rendah karena ingin meninggi. Saya berharap saya berhenti peduli dengan pemenuhan diri untuk merasa besar, di waktu yang spontan, di waktu saya menyadari orang lain ingin membesarkan dirinya. Saya berharap saya semakin tidak peduli dan semakin peduli, semakin peduli dan semakin tidak peduli.

Pentingkan diri kamu dan jangan merasa penting.


(Ya ya tentu paragraf-paragraf di atas sama mengambang-ngambangnya dengan perasaan yang mengambang lucu di dekat paru-paru sehingga perlu diluapkan (namun kurang penting atau terlalu penting untuk disampaikan lisan kepada teman))

Sunday, May 10, 2015

kurang lebih


Tolong jangan berekspektasi lebih dengan berpikir saya akan membuat review album, pun ketika besok adalah pengumpulan ujian akhir yang merupakan berlembar-lembar tulisan tangan. Tapi album ini, yang dirilis di hari ulang tahun saya (yang menyenangkan, bytheway, dan kemungkinan akan saya tulis di kemudian-kemudian-kemudian-kemudian hari), akhirnya saya dengarkan setelah beberapa saat denial bete tentang album ini. Denial bete itu karena informasi pre-order album versi Indonesia saya baca di akhir bulan Maret, masa tersulit finansial mahasiswa, sehingga proses pemesanan saya tunda............hingga akhirnya album dirilis. Typical me.

Sebetulnya tujuan tulisan ini adalah ... pelepasan emosi saya yang jantungnya lagi berdebar-debar perkara mendengarkan album plus minus by Mew ini. Entah headphone ayah saya yang bagus atau bagaimana, ya pokoknya saya harus melepaskan rasa excitement saya. Tapi rasanya terakhir saya menggunakan headphone yang sama suaranya tidak sebaik ini, ah ya, it must be the song then :( 

Ya begitu.

Thursday, April 30, 2015

Just Some Convenience


Seeing Erlend posted this photo.
Has it been too long since I last saw them together?


That scruffy face of Eirik.
Pink pants and indifferent.
That too scandinavian face of Erlend.
With too colorful outfit.

Why do I love this photo so much?
Is it because they're too good looking, looking candid-ish?
Is it because I miss them so much?

I think I'm
just gonna stare at this photo all day.

Saturday, April 25, 2015

Akan Hal-Hal Yang Ingkah

Kamu ingin dia tahu kalian tidak semudah sebuah istilah yang berpindah. Kamu bersyukur Tuhan masih acuh pada yang sepele dan rendah. Kamu harap masa depan tidak terlalu menjadi hal yang engah. Dan melangkah dengan hati, hati yang jangan terpepah.

Wednesday, April 15, 2015

Hidup dari dadu dan kanvas

Saya sedang merasa bersyukur, jika mendengar kisah tentang temannya teman, tidak jarang saya mendengar sesuatu yang membuat saya merasa "kok ada orang yang begitu", atau sesimpel mendengar sebuah lingkungan yang perilakunya saya tahu exist, tapi hanya pernah mendengarnya sebagai pihak ketiga.

Intinya saya merasa bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik, dengan definisi baik yang saya bawa dari keluarga saya. Mungkin saja ini sebuah kebetulan, tapi yang ternyata banyak kehidupan 'asing' yang begitu dekat dengan saya, dan kehidupan saya masih 'polos', dengan definisi polos yang ada di kepala mayoritas orang, saya menganggap ini tidak serta merta kebetulan, peluang dadu lempar, apakah saya akan mendapat teman dengan pergaulan baik atau tidak, saya merasa dadu-dadu itu sudah diletakkan untuk saya (karena saya sudah melihat bagaimana dadu-dadu itu dilemparkan ke mayoritas orang). Makasih Ma, sepertinya do'a Mama di tiap tengah malam ngebawa aku sampai detik ini berkehidupan 'baik', ngebawa aku sampai aku punya fondasi untuk kenapa aku bisa tetap di jalan itu.

Saat ini, definisi polos yang ada di kepala kebanyakan orang itu sudah menjadi definisi terbalik di mata saya: bukankah mereka yang berusaha menidakpoloskan hidupnya adalah orang-orang polos yang sedang mencari hidup? Ya kira-kira begitu. Tentunya setiap orang memiliki pandangan di kepalanya mengenai sosok dan pribadi yang diinginkan-untuk-menjadi, yang dianggap cool, bukan sifat yang jika orang lain membicarakan sifat itu secara buruk, kemudian kita malu karena melakukannya. Saya tidak ingin melakukan hal-hal yang lari dari integritas, yang saya tidak tahu apa alasan saya melakukan hal itu. Saya ingin melakukan sesuatu berlandaskan why, bukan how apalagi what. Belakangan saya mendapat sosok konkrit sempurna untuk jadi sosok cool yang sebaiknya saya lekatkan di kepala saya, sebut saja namanya Haikal Azizi, hidup di lingkungan sebuah definisi tapi dia punya definisinya sendiri.



Oh sungguh.

(Closing tulisan ini agak anti klimaks karena ditutup dengan gestur fangirl, harap dimaafkan)