Monday, May 23, 2016

grassing


(hey there)
Would you like to see me, often?
Though you don't need to see me, often
Because I'd like to see you, often
Though I don't need to see you, often

--indeed the best part of the song.
tried to find a proper live version but none with good sound quality. anco is sound yo.
setelah painting with memang mood anco meningkat lagi.

Thursday, May 12, 2016

rimbun rampat

manah membakar hutan di kepalanya yang telah dipuai dengan begitu hati-hati, berleret-leret berbaris-baris berkeliling jagapati. selang kurun tak diduga awan menghujan api, membakar yang kerap luluh sebagai hati. hati adalah umpan dingin, kau bagi-bagi kau kunyah bagai heroin. engahkah hutan saat rambutnya dijambak peri, dililit api? sewajarnya aku tidak biasa memiliki hutan begitu rimbun, membuat api menjalar begitu mudah menjadi tambun. bersyukur hutan telah tertata lama akar masih kuat tersisa, kudiamkan api membakar agar tidak perlu lagi peluh aku menanam. berselang empat menit padam daun kembali tumbuh bergementam. berterima kasih aku pada alam atas keacuhannya membakar dan merimbunkan. Tuhan yang pergi kembali datang. napasku kembali terhirup dan terbuang.

Tuesday, March 22, 2016

diharap/mengisi

hari itu, di bawah riuh panah matahari yang tak sengaja jatuh:
aksi bingar menentang malam yang terlalu terang
aku dikirim pagi untuk menelentang di atas jalanan

kepalaku menanti basah dalam ritual rindu ditinggal seminggu
jasadmu lewat di jendelaku membawa kabar baru yang seperti biasa lucu
kata-kata ditunggu pada kelas malam yang disiarkan lewat selebaran
air mata menjadi titik di tiap akhir kalimat, mengisi sungai-sungai kering dalam jagat

kau menjelma detak menjadi gilir dalam nadi
aku mengirim pagi untuk membaca suratmu dalam ruang nyali

Thursday, December 17, 2015

Perfect Kiss


sangat menyukai video ini dikarenakan melihat satu-satu instrumen sumber suara-suara baik ala new order

Sunday, November 8, 2015

Puisi, Objek Keresahan dalam Egoisme

Tulisan ini dibuat untuk tugas ujian tengah semester mata kuliah Apresiasi Sastra , membuat esai mengenai makna puisi secara umum bagi diri sendiri.
(Note: Sejauh ini saya rasa ini merupakan mata kuliah favorit saya. Sangat berterima kasih pada kampus saya, kampus teknik yang masih menyisakan ruang untuk mata kuliah sosial.)

Jika ditanyakan, bagaimana makna puisi bagi saya, rasanya seperti ditanyakan apa yang saya makan tadi pagi atau apakah saya terbiasa cuci kaki sebelum tidur: puisi adalah objek yang sangat personal dan keseharian. Bagi saya, puisi adalah objek yang egois.

Karena puisi adalah suatu bentuk tulisan yang bermediakan bahasa, maka sebagian dari peran tulis-menulis dan bahasa dalam kehidupan saya dapat menjelaskan makna puisi bagi saya. Kenangan personal saya bersama bahasa sejauh yang dapat saya ingat adalah saat sekitar kelas tiga sekolah dasar, puisi saya, puisi klise tentang ibu, mendapat pujian dari guru-guru, sehingga saya diikutsertakan dalam lomba. Namun, lomba tersebut adalah lomba membaca puisi, bukan lomba menulis puisi, dan saya kalah dengan aksi anak-anak lain yang lebih teatrikal. Gagalnya pemublikasian hubungan saya dengan bahasa tersebut kemudian membuat hubungan itu berlanjut lebih kasual lewat novel-novel yang saya baca, juga lewat lirik-lirik terjemahan yang sangat menyentuh saya sehingga menginspirasi otak sekolah dasar saya untuk menciptakan puisi-puisi klise lainnya. Saya rasa, hubungan saya dengan bahasa mulai serius dan romantis saat kelas 6 SD saya mulai membuat blog dan memasukkan puisi-puisi serta cerita keseharian saya ke dalamnya. Hingga saat ini, walau sudah berubah-ubah bentuk, blog adalah bagian besar di hidup saya, eksistensinya sangat penting namun sekaligus begitu pribadi sehingga tidak penting diketahui; dia adalah kamar saya, tempat di mana teman-teman saya bisa mampir berkunjung dan duduk di sana, namun kamar saya adalah ruang pribadi dan tidak saya ciptakan untuk mereka.

Pada “kamar” saya itulah, saya belajar pemaknaan bahasa dalam hidup saya. Membaca tulisan-tulisan saya dalam hampir sepuluh tahun ke belakang, beberapa kali saya menulis tentang momen-momen yang saya sebut sebagai “kalut”, “batu yang mengganjal”, “sedang emosi”, dan lain-lain, yang kemudian, pada tulisan-tulisan tersebut, saya menceritakan bagaimana menulis, dalam bentuk yang paling abstrak sekalipun, dapat mengakhiri momen-momen keresahan saya tersebut. Saat menulis tulisan ini, saya pun baru menyadari betapa ternyata saya menyebutkan berulang-ulang di waktu-waktu berbeda manfaat yang saya rasakan dari menulis sebagai pengakhir momen-momen resah, dan sebagian besar dari tulisan tersebut berbentuk puisi. Hal ini membuat saya sadar makna utama menulis, terutama menulis puisi, bagi saya. Puisi adalah bentuk abstrak yang paling konkret dari luapan perasaan.

Hubungan antara perasaan, abstraksi, dan puisi menurut saya adalah keindahan. Perasaan, bagaimanapun, adalah sesuatu yang abstrak, dan perlu dijaga abstraksinya, karena menurut saya, bentuk abstraklah yang membuat perasaan menjadi sesuatu yang indah. Ketika, misalkan, perasaan diutarakan dalam sebuah narasi, yang tingkatan konkretitasnya lebih tinggi dari puisi, sesungguhnya perasaan seperti sudah dikonversi dan mengurangi nilainya, karena keindahan yang tersimpan dalam abstraksi tersebut berkurang. Sedangkan puisi disajikan dalam ragam bahasa yang abstrak (Bella 2012), sehingga masih menjaga nilai keindahan dari perasaan dalam bentuk abstraknya tersebut. Namun, tentunya puisi telah mengonkretkan perasaan karena sudah menjadi bentuk luapan yang bisa dinikmati sebagai sebuah teks. Porsi seimbang antara konkretitas dan abstraksi itulah yang membuat puisi menjadi media yang tepat dalam menyampaikan perasaan. Saya sangat menikmati keindahan dari merasa, dan saat ini sepertinya sudah lebih bijak untuk dapat menerjemahkan sinyal melankolis ke dalam bentuk puisi, seperti kata Cholil Mahmud dalam lirik lagu band Efek Rumah Kaca yang berjudul Melankolia, “Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi (Efek Rumah Kaca 2007).

Dalam hal kesusastraan, Bahasa Indonesia, dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, memiliki tempat yang istimewa di hati saya. Sangat mungkin memang alasannya karena Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu saya, sehingga penilaian ini menjadi bias. Namun, bukan tidak pernah saya membaca puisi dari negara-negara lain, seperti puisi-puisi berbahasa Inggris atau puisi terjemahan dari Eropa dan Jepang, yang membuat saya menyadari ketertarikan saya yang lebih terhadap Sastra Indonesia. Entah kenapa, Bahasa Indonesia dalam kesusastraannya dalam makna, bentuk, dan suaranya membuatnya memiliki hawa yang lebih menghisap—kata ini merupakan terjemahan puitis dari perasaan abstrak saya yang karena ini merupakan tulisan narasi, rasanya tidak ada bahasa yang benar-benar tepat untuk menggambarkan perasaan saya terhadap Bahasa Indonesia (Ternyata kepelikan penerjemahan perasaan yang abstrak menjadi bahasa yang konkret ini memang tidak terlacak kepastiannya bahkan oleh Psikoanalisis Freud sekalipun (El-kayeni n.d.)).

Saya tidak muluk-muluk memaknai peran puisi dalam sosial atau puisi sebagai objek pengubah dunia. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bagi saya, puisi adalah objek egoisme, setidaknya untuk saat ini. Sesungguhnya, mengambil mata kuliah Apresiasi Sastra membuat saya sadar bahwa puisi dimiliki semua orang, dan karena merasa memilikinya, saya jadi ingin melihatnya berkembang. Sepertinya ke depannya, saya ingin meluaskan pemaknaan puisi bagi saya dan tidak lagi egois dalam memaknai puisi.

DAFTAR PUSTAKA
Bella, Revyna Nurlisa. 2012. Estetika yang Terkandung dalam Kumpulan Puisi Arishi Hi No Uta Karya Nakahara Chuuya Melalui Pendekatan Ekspresif. Bandung: Jurnal Universitas Padjadjaran.
El-kayeni, Kajitow. n.d. "Logika dalam Puisi Bagian 2: Makna Metaforikal Dari Segi Nilai Intrinsiknya." diakses November 4, 2015. 
Efek Rumah Kaca. 2007. Melankolia.

Friday, October 23, 2015

Tuesday, August 4, 2015

Tuah kita sebak

source: shutterbeater

Karena melihat The Trees and the Wild pada related videos youtube saat saya menonton band lokal lain, saya jadi mengulik band ini lagi (selain karena saya akan menonton live-nya lagi dalam waktu dekat). Mungkin sudah sekitar satu tahun saya tidak menonton band ini secara langsung ataupun mengikuti beritanya. Perkara perubahan drastis yang dilakukan band ini, saya pribadi jauh, jauh, lebih menyukai mereka pasca transisi. Saya merasa album pertama mereka, Rasuk, dalam rekaman, adalah sebuah karya musik yang standar dan tidak terlalu menyentuh (: salah satu parameter saya dalam menilai--secara subjektif--sebuah karya musik adalah bagaimana suara yang dihasilkan dapat menyentuh), walau memang album ini dapat dibawakan dengan baik saat live. Kemudian suatu hari lahirlah lagu baru Saija, dibawakan live, yang memang normal jika saya melongo mendengarnya. Saya tidak dapat membeberkan dengan bahasa teknis musik, apa yang membuat harmoni atau ketukan atau apapun dari yang saya dengar itu adalah suatu ke--sangat--indahan. Terlebih saya, sebagai seorang yang sangat menikmati menjadi seorang fangirl dan juga sangat menikmati kegiatannya (fangirling), pemandangan Remedy Waloni saat bernyanyi dan bermain gitar, adalah pemandangan yang membuat saya, hmm, oke, bagaimana menjelaskannya, dada saya, perut saya, kepala saya, bergejolak. Bernyanyi dan bermain gitar ada dalam huruf tebal, karena ternyata secara fisik saja, he's not really my type. He's extremely good looking, obviously, but he becomes my number one type of a man when he's on music.

Juga Charita Utamy, sebagai vokalis ttatw, menjadi pengecualian saya untuk seorang vokalis wanita (sekali lagi, saat dia menjadi vokalis ttatw). Tidak banyak vokalis wanita yang menjadi favorit saya, dan saat Charita Utamy bernyanyi di band ini, saya akan heran manusia mana, terutama lelaki mana, yang tidak melihat itu sebagai sebuah kesangatindahan.

Karena mencari lirik Tuah/Sebak dan tidak ada, saya jadi penasaran untuk menuliskan lirik Tuah/Sebak yang dapat saya dengar. Saya terlalu kagum sampai-sampai kagumnya hampir terbawa ke mata. Adalah si Laut dan Nyiur Remedy yang begitu jenius berkarya.

Tuah/Sebak

tuah kita sebak
serah tanpa darah
mimpi yang kalah
anganmu yang pergi

rumah kita retak
terkikis rebah terbis
dan mulailah
terserak lari berat terasa

menumpahkan minum di talang
merasa paling benar

tuah kita sebak
serah tanpa ada tanah
dan biarkanlah anakmu yang pergi

Thursday, July 30, 2015

malam

prolog
Pada ruang yang terkonstruksi dalam isolasi: adalah mata-mata yang mengerjap
dari tanah yang kupijak, adalah mulut-mulut yang melahap pada lantai terkuak.
Dunia serumit nafas yang aku coba tangkap
pada dinding, yang lalu bergejolak dan tak lagi berpihak.

i
Katamu jangan ragu; dalam rebah. Kau mengukir dan merangkai semudah, setelah berkata "telah kupetik lagi satu nyawa", yang kemudian kutanam, sampai berkunjung
kagum, pada mimpi. Tidak sekali. Pada rumah yang dengan cepat setuju.
Di luar hanya kata yang tersiar, yang sudah sering kau dengar. Setidaknya ada sejarah. Adakah sejarah? Bagiku itu sejarah kita.
Sejarahku, hanya, bagi bentala.

ii
Kau seindah imaji yang buta. Ketika mayat yang kau tahu akan ada; belum saatnya kau lahir dalam kata. Imaji semanis gula-gula yang habis dalam semalam, agar kau ada untuk kumuntahkan: terapal pada paragraf terjelma gugusan. Walau sempat, imaji ingin bertukar kata (dalam malam prasaja).
Kau rawat baik mayat, yang kubunuh, yang hidup, dan akan kembali
pada sebuah pangkuan yang mengupas habis kenangan. Pada saat itu, kau dan aku,
seribu kepal menuju ada.

Wednesday, July 22, 2015

Sunday, July 5, 2015

all over again


stop telling my emotion what to do


but then again
those people have done nothing wrong
what is wrong is your fking expectation