Friday, June 1, 2012

Brotherhood


Post yang rencananya akan diketik di akhir 31 Mei, tidak ditulis pada 31 Mei, karena tanggal itu tidak berjalan sesuai rencana. Rencananya di tanggal itu kakak saya berulang tahun (bagian ini tentu masih terlaksana seperti 20 tahun sebelumnya), dan malamnya saya dan keluarga akan mengadakan some family time, dan rencananya di akhir tanggal itu saya akan mengetik sebuah post. Berhubung rencana kedua gagal, saya jadi tidak yakin kapan hari itu berakhir, maka saya tidur: dan rencana ketiga pun tumbang.

Intinya saya berencana membuat semacam birthday note buat kakak saya yang kedua dalam rangka ulang tahunnya yang ke-21, tapi dalam perjalanan menulis, saya berujung memberikan credit kepada kedua kakak saya.

Saya anak ketiga dari tiga bersaudara, dan anak kedua, Faisal Adiprabowo Widyanto, adalah adik dari anak pertama, Hanif Adinugroho Widyanto. Keduanya kemungkinan besar tidak akan membaca blog ini, tapi mungkin ada stalkernya yang googling namanya dan accidentally mampir kesini. Who knows. Saya tergolong cukup dekat dengan kakak-kakak saya, akur-tidak akur, tapi saya bangga punya kakak mereka. Keduanya brotherly annoying, maksudnya menurut saya mereka adalah orang-orang menyebalkan, yang menyebalkan karena kewajiban mereka sebagai seorang kakak, atau tipikal seorang kakak adalah menyebalkan dengan caranya sendiri. Kakak saya yang pertama, adalah kakak dengan kadar menyebalkan yang jauh lebih tinggi, karena seringkali intensi-nya memang adalah membuat saya kesal--yang saya kemudian pelajari bahwa perilaku membuat kesal seorang adik adalah sumber energi seorang kakak--dan sepertinya energi kakak saya yang satu ini memang cukup berlebih. Dia adalah orang yang (hiper)aktif, reads a lot, watches a lot, talks a lot, goes out a lot, moves a lot, eats a lot. Dia childish dan dia cerdas, dia egois dan bertanggung jawab. He's a Sheldon Cooper: seringkali saya kalah berargumentasi dengan dia, karena secara sangat menyebalkan, argumentasinya benar (walau lebih sering argumentasi naif seorang kakak yang harus menang). Saya harus mengakui dia adalah orang yang cerdas, orang yang mau belajar. Masalah teknis mengenai bidang-bidang yang ia jalani, ia pelajari dengan rinci dan membuatnya mudah unggul (tiba-tiba jadi paragraf promotif). Dia tidak selalu berhasil dan sukses, tidak selalu menyenangkan, tapi saya bersyukur memiliki kakak yang bisa membuat saya mengetahui banyak hal dan membuat saya banyak--well--tertawa. Meanwhile kakak saya yang kedua, bisa dibilang cukup bertolak belakang dari perawakan luar kakak saya yang pertama. Semua orang yang mengenalnya harus setuju dengan statement ini: dia anak baik-baik. Dia-tipikal-anak-baik-baik. Dia sangat memikirkan kepentingan orang lain dan jarang mengeluhkan hal-hal kecil pribadi. Saya tidak merasa dia memiliki hobi yang benar-benar spesifik, tapi dia tertarik akan banyak hal dan dia adalah orang yang menekuninya. Di antara keluarga saya yang rata-rata pelupa dan panikan, dia mungkin adalah orang yang paling terstruktur dan tenang. Aneh rasanya kalau saya tidak pernah membanggakan dia. Belakangan, lingkar pertemanan saya dan dia beririsan cukup banyak, dan saya yakin orang-orang melihat dia sebagai kakak sayang adikoh-you-are-so-sweet, dan saya tidak akan menyangkalnya, walaupun yang orang-orang tidak tahu, ketika saya mengeluhkan sifat jahat dan humiliating-nya (yang juga ada, wahai orang-orang), dia mengaku, 'gue jahat ke lo doang.' Damn. Brotherly annoying.

There. Saya membuatnya satu paragraf agar lebih sulit dibaca, karena saya--uhuk--malu-malu nulisnya. Kami akur di dalam, insulting-each-other di luar. Mungkin analoginya seperti memberikan pujian pada Barney Stinson, yang Ted Mosby tahu akan membuatnya menyesal jika diutarakan langsung, karena ... well, he's brotherly annoying. But they do love each other. O...kay.


Okay. 
I think I'm sweet enough. Cough.

No comments:

Post a Comment