Friday, April 19, 2013

sepertiga

Ragu, dan semesta menenggelamkanmu. Maka aku, jemari di atas kapalku, dan gemericik di pinggir mataku datang menyelamatkanmu. Tapi aku dan lelahku ingin bersembunyi di balik ribuan biru, yang semakin membiru. Kabut itu resahmu maka resahku menjadi potongan ragi yang menggunung pilu. Malam menjadi lusuh dan langit-langit kamarku berubah ungu. 

Semesta yang berada di sisi lain tubuh kita sudah terlalu banyak bicara, dunia sudah sampai mampus berpura-pura. Kini kamu adalah sebuah makna, segenap kala membelah dada menjadi dua.

No comments:

Post a Comment