Sunday, June 28, 2015

produktivitas, dunia, produktivitas dunia

Apa yang dibutuhkan seorang saya untuk dapat menulis? Cukup merenung ketika seorang teman mengirimkan cerpen yang saya tulis pada awal SMA yang ditemukan di komputernya. Saya kagum membacanya walau jauh dari sempurna. Saya kagum pada saya yang dulu yang bisa merangkai kata hingga cerita, karena saya yang sekarang belum tentu dapat melakukannya. Oh tapi sudah sejauh apa kamu mencoba?

Juga ketika membuka label kata pada blog ini, dan menyadari produktivitas kata yang menurun. Apa yang dibutuhkan seorang saya untuk dapat merangkai kata? Asumsi faktor pendorong yang saya terka kemudian patah ketika membuka folder pribadi SMA saya: tanpa si asumsi-faktor-pendorong, folder kata itu berisi banyak file kata. Dan oh, banyak di antaranya bahkan saya lupa pernah saya buat. Dan oh-nya lagi, ada yang rasanya sangat berkaitan dengan kehidupan saya saat ini (you know so well, old me), yang bisa saya daur ulang, dan kemudian saya daur ulang. Awalnya saya berniat mengganti judulnya, namun tidak bisa memikirkan judul yang lebih baik dari treadmill tanpa ditranslasi, walau mungkin judul itu adalah judul spontan dangkal saya saat itu.


Treadmill
Separuh jalan baru tertempuh ketika aspal mencengkram tali sepatu. Tanpa sempat terkejar, selalu lebih dulu dunia berlalu. Tanah di pijakan bergerak mundur dan kakimu terpaksa berlari, menenteng ari-ari, sambil dunia di depanmu menari. Kakimu adalah mesin yang mendisfungsikan tubuhmu. Kaki dan tanah adalah waktu. Ketika darahmu habis diperah, organmu mati terengah, kamu hampir mati terbawa lelah.

Terpaksa kamu adalah seorang penikmat etalase. Orang-orang sudah lama menegak oase. Dalam buncah, otakmu pecah, kopermu tumpah, sepatumu belah. Tapi kamu masih berlari, tinggal membawa sisa nadi, berharap gelasmu masih sempat terisi.

No comments:

Post a Comment