Thursday, July 30, 2015

malam

prolog
Pada ruang yang terkonstruksi dalam isolasi: adalah mata-mata yang mengerjap
dari tanah yang kupijak, adalah mulut-mulut yang melahap pada lantai terkuak.
Dunia serumit nafas yang aku coba tangkap
pada dinding, yang lalu bergejolak dan tak lagi berpihak.

i
Katamu jangan ragu; dalam rebah. Kau mengukir dan merangkai semudah, setelah berkata "telah kupetik lagi satu nyawa", yang kemudian kutanam, sampai berkunjung
kagum, pada mimpi. Tidak sekali. Pada rumah yang dengan cepat setuju.
Di luar hanya kata yang tersiar, yang sudah sering kau dengar. Setidaknya ada sejarah. Adakah sejarah? Bagiku itu sejarah kita.
Sejarahku, hanya, bagi bentala.

ii
Kau seindah imaji yang buta. Ketika mayat yang kau tahu akan ada; belum saatnya kau lahir dalam kata. Imaji semanis gula-gula yang habis dalam semalam, agar kau ada untuk kumuntahkan: terapal pada paragraf terjelma gugusan. Walau sempat, imaji ingin bertukar kata (dalam malam prasaja).
Kau rawat baik mayat, yang kubunuh, yang hidup, dan akan kembali
pada sebuah pangkuan yang mengupas habis kenangan. Pada saat itu, kau dan aku,
seribu kepal menuju ada.

No comments:

Post a Comment