Thursday, July 2, 2015

kisi

Malam ini, seperti malam terhimpit lainnya, pada rak, lelap tidak bertempat, lelap menyelap.
Rak selalu terisi, pun ketika kosong, pun ketika semesta seperti selalu mengubur. Aku tidak berkesempatan untukmu, semesta. Kosong merayu, kepada rak menyebu. Aku sampah, semesta. Dan rak bersumpah, aku lelah. Namun pedulikah?
Namun rak-rak buta akan kesaksamaan isi buku. Oh tolong, kepada siapapun yang Maha: bacakan, ejakan. Dan apakah setelahnya dunia akan tetap enggan? Malam ini rak penuh, terjejal kosong. Oh kosong, hanya melompong.
Terhitung menit buku harus terjual. Buku belum berjudul, sayang. Buku sudah terisi, oleh kosong, oleh yang hanya melompong. Apakah salah, ia, semesta? Mengisi yang kosong agar penuh? Apakah buku harus dijual, semesta? Di mana acuh dijual bebas? Di mana acuh bisa kulahap? Di mana acuh bisa kububuh? Acuh, semesta, begitu pelik. Isi buku, semesta, begitu mistik.
Pulangkan aku, ke tempat di mana huruf pada buku tereja di sepanjang jalan, menuju gunung, ke tiang-tiang yang terang. Mengapa kata, semesta, tidak pernah terpatri. selalu terpapas, terlepas. Aku buntung, semesta, rak tidak berkaki. Bantu aku, semesta, membaca isi buku, hingga berbalut-balut, hingga berdaki-daki.

No comments:

Post a Comment