Sunday, November 8, 2015

Puisi, Objek Keresahan dalam Egoisme

Tulisan ini dibuat untuk tugas ujian tengah semester mata kuliah Apresiasi Sastra , membuat esai mengenai makna puisi secara umum bagi diri sendiri.
(Note: Sejauh ini saya rasa ini merupakan mata kuliah favorit saya. Sangat berterima kasih pada kampus saya, kampus teknik yang masih menyisakan ruang untuk mata kuliah sosial.)

Jika ditanyakan, bagaimana makna puisi bagi saya, rasanya seperti ditanyakan apa yang saya makan tadi pagi atau apakah saya terbiasa cuci kaki sebelum tidur: puisi adalah objek yang sangat personal dan keseharian. Bagi saya, puisi adalah objek yang egois.

Karena puisi adalah suatu bentuk tulisan yang bermediakan bahasa, maka sebagian dari peran tulis-menulis dan bahasa dalam kehidupan saya dapat menjelaskan makna puisi bagi saya. Kenangan personal saya bersama bahasa sejauh yang dapat saya ingat adalah saat sekitar kelas tiga sekolah dasar, puisi saya, puisi klise tentang ibu, mendapat pujian dari guru-guru, sehingga saya diikutsertakan dalam lomba. Namun, lomba tersebut adalah lomba membaca puisi, bukan lomba menulis puisi, dan saya kalah dengan aksi anak-anak lain yang lebih teatrikal. Gagalnya pemublikasian hubungan saya dengan bahasa tersebut kemudian membuat hubungan itu berlanjut lebih kasual lewat novel-novel yang saya baca, juga lewat lirik-lirik terjemahan yang sangat menyentuh saya sehingga menginspirasi otak sekolah dasar saya untuk menciptakan puisi-puisi klise lainnya. Saya rasa, hubungan saya dengan bahasa mulai serius dan romantis saat kelas 6 SD saya mulai membuat blog dan memasukkan puisi-puisi serta cerita keseharian saya ke dalamnya. Hingga saat ini, walau sudah berubah-ubah bentuk, blog adalah bagian besar di hidup saya, eksistensinya sangat penting namun sekaligus begitu pribadi sehingga tidak penting diketahui; dia adalah kamar saya, tempat di mana teman-teman saya bisa mampir berkunjung dan duduk di sana, namun kamar saya adalah ruang pribadi dan tidak saya ciptakan untuk mereka.

Pada “kamar” saya itulah, saya belajar pemaknaan bahasa dalam hidup saya. Membaca tulisan-tulisan saya dalam hampir sepuluh tahun ke belakang, beberapa kali saya menulis tentang momen-momen yang saya sebut sebagai “kalut”, “batu yang mengganjal”, “sedang emosi”, dan lain-lain, yang kemudian, pada tulisan-tulisan tersebut, saya menceritakan bagaimana menulis, dalam bentuk yang paling abstrak sekalipun, dapat mengakhiri momen-momen keresahan saya tersebut. Saat menulis tulisan ini, saya pun baru menyadari betapa ternyata saya menyebutkan berulang-ulang di waktu-waktu berbeda manfaat yang saya rasakan dari menulis sebagai pengakhir momen-momen resah, dan sebagian besar dari tulisan tersebut berbentuk puisi. Hal ini membuat saya sadar makna utama menulis, terutama menulis puisi, bagi saya. Puisi adalah bentuk abstrak yang paling konkret dari luapan perasaan.

Hubungan antara perasaan, abstraksi, dan puisi menurut saya adalah keindahan. Perasaan, bagaimanapun, adalah sesuatu yang abstrak, dan perlu dijaga abstraksinya, karena menurut saya, bentuk abstraklah yang membuat perasaan menjadi sesuatu yang indah. Ketika, misalkan, perasaan diutarakan dalam sebuah narasi, yang tingkatan konkretitasnya lebih tinggi dari puisi, sesungguhnya perasaan seperti sudah dikonversi dan mengurangi nilainya, karena keindahan yang tersimpan dalam abstraksi tersebut berkurang. Sedangkan puisi disajikan dalam ragam bahasa yang abstrak (Bella 2012), sehingga masih menjaga nilai keindahan dari perasaan dalam bentuk abstraknya tersebut. Namun, tentunya puisi telah mengonkretkan perasaan karena sudah menjadi bentuk luapan yang bisa dinikmati sebagai sebuah teks. Porsi seimbang antara konkretitas dan abstraksi itulah yang membuat puisi menjadi media yang tepat dalam menyampaikan perasaan. Saya sangat menikmati keindahan dari merasa, dan saat ini sepertinya sudah lebih bijak untuk dapat menerjemahkan sinyal melankolis ke dalam bentuk puisi, seperti kata Cholil Mahmud dalam lirik lagu band Efek Rumah Kaca yang berjudul Melankolia, “Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi (Efek Rumah Kaca 2007).

Dalam hal kesusastraan, Bahasa Indonesia, dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, memiliki tempat yang istimewa di hati saya. Sangat mungkin memang alasannya karena Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu saya, sehingga penilaian ini menjadi bias. Namun, bukan tidak pernah saya membaca puisi dari negara-negara lain, seperti puisi-puisi berbahasa Inggris atau puisi terjemahan dari Eropa dan Jepang, yang membuat saya menyadari ketertarikan saya yang lebih terhadap Sastra Indonesia. Entah kenapa, Bahasa Indonesia dalam kesusastraannya dalam makna, bentuk, dan suaranya membuatnya memiliki hawa yang lebih menghisap—kata ini merupakan terjemahan puitis dari perasaan abstrak saya yang karena ini merupakan tulisan narasi, rasanya tidak ada bahasa yang benar-benar tepat untuk menggambarkan perasaan saya terhadap Bahasa Indonesia (Ternyata kepelikan penerjemahan perasaan yang abstrak menjadi bahasa yang konkret ini memang tidak terlacak kepastiannya bahkan oleh Psikoanalisis Freud sekalipun (El-kayeni n.d.)).

Saya tidak muluk-muluk memaknai peran puisi dalam sosial atau puisi sebagai objek pengubah dunia. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bagi saya, puisi adalah objek egoisme, setidaknya untuk saat ini. Sesungguhnya, mengambil mata kuliah Apresiasi Sastra membuat saya sadar bahwa puisi dimiliki semua orang, dan karena merasa memilikinya, saya jadi ingin melihatnya berkembang. Sepertinya ke depannya, saya ingin meluaskan pemaknaan puisi bagi saya dan tidak lagi egois dalam memaknai puisi.

DAFTAR PUSTAKA
Bella, Revyna Nurlisa. 2012. Estetika yang Terkandung dalam Kumpulan Puisi Arishi Hi No Uta Karya Nakahara Chuuya Melalui Pendekatan Ekspresif. Bandung: Jurnal Universitas Padjadjaran.
El-kayeni, Kajitow. n.d. "Logika dalam Puisi Bagian 2: Makna Metaforikal Dari Segi Nilai Intrinsiknya." diakses November 4, 2015. 
Efek Rumah Kaca. 2007. Melankolia.

3 comments: