Thursday, May 12, 2016

rimbun rampat

manah membakar hutan di kepalanya yang telah dipuai dengan begitu hati-hati, berleret-leret berbaris-baris berkeliling jagapati. selang kurun tak diduga awan menghujan api, membakar yang kerap luluh sebagai hati. hati adalah umpan dingin, kau bagi-bagi kau kunyah bagai heroin. engahkah hutan saat rambutnya dijambak peri, dililit api? sewajarnya aku tidak biasa memiliki hutan begitu rimbun, membuat api menjalar begitu mudah menjadi tambun. bersyukur hutan telah tertata lama akar masih kuat tersisa, kudiamkan api membakar agar tidak perlu lagi peluh aku menanam. berselang empat menit padam daun kembali tumbuh bergementam. berterima kasih aku pada alam atas keacuhannya membakar dan merimbunkan. Tuhan yang pergi kembali datang. napasku kembali terhirup dan terbuang.

3 comments:

  1. Replies
    1. fatooonn what are you doing here :(( hahahaha maafkan tulisanku yg ga jelas ini huhu :((

      Delete
    2. gw udah ngepoin blog lo sampe awal banget mil, dari yang ini sampe nonton konser sampe galau jaman SMA, wkwkwkwk.

      nggak apa mil, gw suka aja bacain blog orang-orang, di situlah sisi lain orang terletak. keep writing, jangan block gw dari blog ini, hahahaha.

      Delete