Friday, June 10, 2016

mad madness

Begini yang akhirnya saya pahami:
Tidak ada seseorangpun yang dapat meng-handle madness. Even mad people can't handle other people's madness. Golongan dengan madness yang lebih tinggi irritated dengan people dengan less madness karena "kamu teh ga ada apa-apanya". Golongan yang madness-nya lebih rendah akan irritated dengan madness yang lebih tinggi karena people don't like something they don't understand. They judge. Masalahnya itulah perkara dari mental, yang wujudnya tidak ada, yang entah dapat dideteksi oleh indra manusia yang mana.

Tentu tentu, manusia memang boleh, dianjurkan, dan sebaiknya dapat percaya dengan orang lain. Just not too much, never too much. Memercayai orang tetap harus berhati-hati, berjingkat-jingkat, permisi dulu, seperti halnya diri sendiri tetap harus waspada terhadap kepercayadirian.

Bagus memang hikmahnya ya jadi lebih mandiri secara mental, serta juga jadi lebih sering istigfar agar tidak lupa diri menghakimi mentalitas orang lain. Orang akan ada yang berpikir itu tindak sok suci, sok yang padahal mengaitkan segala hal dengan pengalaman pribadi. Loh, tidak ada salahnya, jika segala hal di dunia dianggap personal karena toh semua orang memang personal bagi dirinya masing-masing. Akan ada yang jijik dengan mercy karena jijik dengan kelemahan manusia yang diumbar. Yah, itu sih berarti justru karena belum paham kelemahan diri sendiri, denial lah istilahnya, sehingga the mention of kelemahan itu sendiri adalah sesuatu yang asing dan bikin bergidik. Lalu ditumpahkan ke muka orang lain. Yasudahlah, lagi-lagi manusiawi.

Jadi ingat quote yang cukup tenar dari Robin Williams saat his madness took his life, begini kata di internet:

“I think the saddest people always try their hardest to make people happy because they know what it’s like to feel absolutely worthless and they don’t want anyone else to feel like that.”

Saya setuju.

No comments:

Post a Comment